Demam Facebook memang tak mampu dihindari semua kalangan. Situs jejaring sosial ini kerap dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai sekadar pertemanan, penyebarluasan ide, hingga kampanye. Sehingga, tak heran jika kemudian Paus Benediktus XVI kini membuat situs baru yang tersambung ke Facebook.
Situs itu, seperti dilansir BBC, memperbolehkan pengunjung untuk mengunduh aplikasi ke IPhone guna mengakses video dan berita audio mengenai Paus. Seperti dilaporkan Duncan Kennedy dari Roma, ini merupakan langkah terbaru dari Paus untuk memanfaatkan internet bagi penyebaran pesan gereja.
Situs baru itu bernama Pope-2-You dan memiliki koneksi portal Facebook maupun IPhone. “Ini memungkinkan pengguna Facebook untuk melihat foto dan menerima pesan Paus lewat kartupos virtual, dan menciptakan jaringan sosial seputar Paus,” jelas Vatikan.
Namun, Paus tidak mencantumkan profil pribadinya di Facebook. Sebab, Vatikan ingin menjaga citra pemimpin tertinggi umat Katolik itu sebagai pelayan umat, bukan pemimpin umat.
Aplikasi untuk Iphone memberi kesempatan kepada pengguna untuk memantau kegiatan Paus maupun pidato-pidatonya. Gereja mengatakan langkah Paus itu merupakan penyesuaian dengan abad 21, agar komunikasi dengan ummat tetap berjalan lancar.
Hal ini berbanding terbalik dengan sikap Paus sebelumnya. Ia sebelumnya memeringatkan bahwa jejaring sosial di dunia maya bisa membuat orang menjadi obsesif dan mengasingkan diri.
Senin, 25 Mei 2009
Wah! Paus Ternyata Facebooker
Diposting oleh
Andika Sabilla
di
22.26
0
komentar
Pro dan Kontra Facebook
Berbagai media seperti internet dan media televisi ramai membicarakan fenomena pro dan kontra Facebook. Fenomena kontra terhadap Facebook yang pertama kali dilancarkan oleh suatu pihak tertentu menuai protes kalangan pro Facebook.
Kalangan pro Facebook, Julia Perez contohnya mengatakan sebenarnya Facebook itu tidak negatif, semua tergantung pemakainya. Tanggapan Julia ini sangat saya setujui, dimana Facebook itu seperti pisau, yang diciptakan untuk memotong bahan makanan (yang sering disalahgunakan untuk membunuh orang).
Pepatah makin tinggi pohon, makin besar angin yang menerpa saya rasa sangat tepat dengan pro dan kontra Facebook ini. Jika Facebook menjadi salah satu situs jejaring sosial yang sekarang sedang ngetren, saya pribadi berharap situs-situs sejenis Facebook tidak mengurangi sosialisasi kita terhadap sesama. Melainkan cuma memfasilitasi.
Soal pro kontra facebook, Roy Suryo menyikapinya dengan bijaksana. Kata dia, facebook itu halal kalau penggunanya baik. Ketegasan sikap itu yang akhirnya membuat Roy mendukung para artis dan banyak orang yang pro facebook.
"Haram atau tidak haramnya facebook memang bukan kapasitas saya untuk bicara. Tapi, menurut saya pribadi, halal atau haramnya lebih bagaimana penggunanya. Jangan dilihat karena satu kasus, jadi yang lainnya terkena. Masak nila setitik rusak susu sebelenga," jelas pakar telematika, Roy Suryo, kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (25/5) siang.
Roy dengan tegas menyatakan facebook itu halal, menjadi sepaham dengan para artis atau banyak orang yang pro facebook. Roy berpendapat asalkan penggunanya baik pastinya hasilnya baik.
"Saya setuju dengan artis dan banyak orang yang pro facebook dan menganggap banyak positifnya. Ini jelas halal dan nggak haram. Saya berpikir facebook atau apa pun itu, tetap baik asal difasilitasi atau digunakan dengan baik. Itu yang patut dicermati," ungkap Roy.
Pembicaraan pun disudahi Roy dengan mengatakan, "Yang patut dicermati, adalah pengguna facebook yang arahnya negatif. Biasanya menggunakan identitas palsu. Itu baru yang diharamkan."
Diposting oleh
Andika Sabilla
di
22.23
1 komentar
Jelang Pemilu, Iran Larang Facebook
Pemerintah Iran memblokir situs jejaring sosial paling populer di dunia, Facebook, sejak akhir pekan lalu. Pihak oposisi menyatakan larangan ini agar Presiden Mahmoud Ahmadinejad bisa menang kembali dalam pemilihan umum pada 12 Juni mendatang.
Facebook baru tiga bulan diizinkan di Iran tapi sudah sangat populer di Iran. Biasanya mereka bertukar foto atau ledek-ledekan. Tapi, menjelang pemilihan umum, Facebook juga menjadi tempat berdiskusi politik yang panas.
Pihak oposisi dengan trampil memanfaatkan Facebook untuk melakukan kampanye. Mereka memanfaatkan situs ini karena, sebelumnya, mereka tidak bisa menggunakan media elektronik yang dikendalikan pemerintah.
Larangan ini membuat marah pihak oposisi. Salah satu kiai terkemuka Mohammad Ali Abtahi, bekas wakil presiden yang sekarang menjadi penasehat salah satu penantang Ahmadinejad yakni Mehdi Karroubi, mengatakan, "Pemerintah ingin mencegah diskusi bebas soal pemilihan umum ini."
Abtahi ini mengetahui pemblokiran Facebook saat pada Minggu (24/5) membuka situs untuk mengetahui diskusi terakhir soal politik, ternyata situs itu tidak lagi bisa dibuka karena diblokir pemerintah.
Kiai ini sudah mengumpulkan teman sampai 3.000--mungkin kira-kira 20 kali lipat jumlah teman yang masuk dalam daftar pengguna Facebook di Indonesia--dalam tiga bulan.
Ribuan teman ini, kata Abtahi, biasa membicarakan masalah politik dengan bebas, yang tidak mungkin muncul di koran-koran.
Pihak oposisi memang gemar memanfaatkan Facebook untuk efektivitas kampanye. Mir Hossein Mousavi--salah satu penantang utama Ahmadinejad--misalnya.
"Kami menggunakan Facebook untuk berhubungan langsung dengan pemilih," kata Saleh Behesti, mahasiswa jurusan desain industri yang membantu kampanye via Internet Mousavi.
Behesti mengatakan mereka memiliki 6.000 orang yang menyebarkan pidato dan pertemuan Mousavi kepada teman-temannya. Akhir pekan lalu, misalnya, 20 ribu orang datang ke kampanye Mousavi di sebuah stadion. "Tanpa Facebook kami tidak mungkin bisa mengumpulkan begitu banyak orang," kata Behesti.
Iran berulang-kali memblokir situs-situs Internet. Tapi biasanya blokir itu terhadap situs-situs yang terkait seks. Keputusan pemblokiran dilakukan oleh Dewan Penentu Isi Penyaringan. Anggota Dewan ini terdiri pemerintah, kehakiman, dan intelijen.
Banyak situs Internet yang gemar mengecam Iran, diblokir. Tapi situs berita terkemuka biasanya tidak diblokir. Pelaksanaan pemblokiran dilakukan oleh Departemen Telekomunikasi, lembaga yang mendistribusikan jaringan Internet kepada perusahaan penyedia layanan Internet di Iran.
Pemerintah Iran belum memberi komentar soal ini. Penasehat media presiden Iran, Ali Akbar Javanfekr, misalnya, malah mengatakan, "Saya belum pernah mendengar soal Facebook. Coba tanya yang lain."
Diposting oleh
Andika Sabilla
di
03.14
0
komentar
Dampak Negatif Internet
Ketergantungan pada internet mulai merambah kota-kota besar di Indonesia. Sayangnya tidak semuanya berdampak positif, bahkan sejauh ini pengguna internet lebih dominan melakukan kegiatan-kegiatan negatif. Untuk dapat mengambil tindakan yang tepat, sebelumnya perlu ada pengertian yang jelas dan praktis terhadap ketergantungan yang tidak sehat akan internet ini. Kecanduan pada dunia cyber terbagi dalam lima kategori.
1. Cybersexual addiction
yaitu obsesi untuk melihat, men-download dan memperdagangkan pornografi. Chat rooms yang berisi fantasi dan role playing untuk dewasa juga termasuk dalam kategori ini.
2. Cyber-relational addiction
adalah keterlibatan yang berlebihan pada hubungan yang terjalin melalui internet (seperti melalui chat room dan virtual affairs) sampai kehilangan kontak dengan hubungan-hubungan yang ada dalam dunia nyata.
3. Net gaming
yaitu sejenis kecanduan karena judi, bermain game, berbelanja dan kegiatan jual beli saham melalui internet yang mengganggu pekerjaan dan/atau mengakibatkan terjadinya utang.
4. Information overload
Karena menemukan informasi yang tidak habis-habisnya yang tersedia di internet, sejumlah orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan dan mengorganisir berbagai informasi yang ada.
5. Computer addiction
Riset menemukan bahwa beberapa organisasi mengalami dampak negatif sebagai akibat dari kecanduan akan games off-line (seperti Solitaire dan Tetris yang populer di dekade 1980-an lalu), yang memang rata-rata banyak di-install dalam komputer.
Diposting oleh
Andika Sabilla
di
03.08
0
komentar
Fatwa Haram Facebook Tidak Berdasar
JAKARTA - Keinginan para ulama di Jawa Timur yang ingin memfatwakan Facebook, mendapat tentangan keras dari para Facebokers (sebutan bagi pengguna Facebook). Menurut mereka para ulama itu, harus memberikan dalil yang tepat sebelum mengeluarkan keputusan tersebut.
"Fatwa ini sungguh tidak realistis. Ulama itu harus menunjukkan dalil yang tepat karena Facebook juga memberikan dampak yang positif, kok," sungut Chandra Wirawan salah satu aktivis Facebook, saat berbincang dengan okezone, Jumat (22/5/2009).
Ditambahkan juga, situs jejaring sosial seperti Facebook itu justru mempunyai peraturan yang sangat ketat. Salah satu contohnya, jika pengguna Facebook menampilkan foto dari dada ke atas, maka pengelola akan segera menutupnya. Jadi bisa dibilang, Facebook sudah mempunyai filter sendiri.
Selain itu, menurut pria berusia 28 tahun tersebut, kalau ulama itu mau menghadang jejaring sosial, sebaiknya jangan hanya Facebook saja. Masih banyak situs jejaring sosial lain seperti, Friendster, ataupun Myspace. Dan bila memang seperti itu, sama saja ulama melarang penggunaan internet masuk ke Indonesia.
"Kegiatan di dunia maya memang membutuhkan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Dan itu tergantung dari masing-masing pribadi dalam mengontrolnya. Malah bisa dibilang, yang mengawasi kegiatan dunia maya itu, hanya dirinya dan malaikat," tegasnya.
Beberapa pengguna lain yang intens mengelola Facebook pun memiliki pendapat mereka masing-masing, namun pada intinya semua memberikan satu suara yang bulat, yaitu menyayangkan sikap MUI jika Facebook akan difatwakan haram.
"Gak setuju kalau main Facebook sampai dibilang haram. Masalahnya selama ini yang saya lihat lebih banyak kebaikannya dibanding keburukannya," ujar Cempaka ketika ditanya pendapatnya oleh Okezone. Mahasiswi 21 tahun ini pun menambahkan, Facebook sangat membantunya dalam keep in touch dan menemukan kembali teman-teman lama.
Hal senada diungkapkan pengguna Facebook lainnya, Adinda, 23 tahun, seorang jurnalis salah satu media online mengatakan keberatannya soal fatwa haram Facebook.
"Sangat tidak penting memberlakukan fatwa haram untuk Facebook, gak relevan aja. Lagipula saya belum pernah menemukan fakta dan data yang mengungkapkan dampak Facebook disalahgunakan untuk kegiatan seks terselubung. Dampak buruk yang sering saya dengar selama ini, paling hanya membuat pengaksesnya lupa diri dan saya rasa itu masih wajar. Bergantung sama pribadi masing-masing lah," ujarnya.
Adinda pun menambahkan, jika iya Facebook akan difatwakan haram, seharusnya hal ini pun berlaku bagi situs jejaring sosial lainnya.
"Memang saat ini fenomena Facebook tengah booming, tapi jika para pengakses dilarang mengakses Facebook, bagaimana dengan situs jejaring sosial lainnya?. Kalau mau diharamkan kenapa pilih-pilih?. Seandainya Facebook ditutup, mereka masih bisa beralih ke situs jejaring sosial lainnya," katanya.
Cempaka mengatakan bahwa jika benar Facebook akan difatwakan haram, kemungkinan dia akan beralih menggunakan situs jejaring sosial lainnya.
"Kalau memang benar diharamkan, saya masih punya beberapa akun di situs jejaring sosial lain seperti MySpace dan yang lainnya,"
Sementara itu, Apriarto, 27 tahun, mengatakan tidak terlalu masalah baginya andai Facebook diharamkan. Dia berpendapat fenomena ini merupakan sebagian kecil dari dampak booming internet di seluruh dunia.
Namun Apriarto menghubungkannya dengan fenomena serupa yang pernah terjadi sebelumnya, karena hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan negara lain juga sudah banyak keberatan para pemuka agama atas dampak negatif berbagai situs jejaring sosial.
"Kebetulan memang Facebook yang tengah marak saat ini. Tapi jika baru sekarang MUI memberikan perhatian atas dampak buruk booming internet, kemana saja MUI selama ini? hari gini kok baru berkomentar?" tandasnya. (srn)
Sumber : okezone, Jumat (22/5/2009).
Diposting oleh
Andika Sabilla
di
02.53
0
komentar
Mengenai Saya
- Andika Sabilla
- Saya Selalu Mencari Informasi Terbaru Di Blog Ini, Khususnya Tentang Komputer, Software & Game.
